MANDAT KERJA DALAM KEJADIAN 1:28 SEBAGAI DASAR MODERASI BERAGAMA: TAFSIR ULANG TEOLOGIS KRISTEN UNTUK KERUKUNAN LINTAS IMAN DI INDONESIA
Kata Kunci:
Moderasi Beragama, Mandat Kerja, Kejadian 1:28, Teologi Kristen, Kerukunan Lintas Iman, Religious Moderation, Work Mandate, Genesis 1:28, Christian Theology, Interfaith HarmonyAbstrak
ABSTRAK
Salah satu problematika mendasar yang menghambat terwujudnya moderasi beragama di Indonesia adalah dominasi cara pandang keagamaan yang eksklusif. Kondisi ini menyebabkan interaksi antaragama sering kali terjebak pada tataran simbolik dan tidak menghasilkan pemahaman yang mendalam. Untuk merespons persoalan tersebut, artikel ini mengusulkan sebuah upaya konstruktif, yaitu melakukan pembacaan ulang terhadap amanat Allah dalam Kejadian 1:28 (mandat budaya) dan menjadikannya sebagai fondasi praktis bagi kerukunan umat beragama. Menggunakan pendekatan teologi biblika kualitatif dan metode eksegesis yang menyoroti kata kabash dan radah, kajian ini menghasilkan tiga temuan pokok: martabat manusia sebagai imago Dei, amanat sebagai penatalayan alam, dan keharusan untuk bersinergi. Ketiga temuan ini menunjukkan bahwa mandat budaya memiliki daya jangkau lintas iman yang melampaui batasan-batasan doktrinal. Oleh karena itu, kontribusi signifikan dari tulisan ini adalah menggeser orientasi dialog dari upaya menyeragamkan kepercayaan menuju semangat berbagi tanggung jawab dalam tindakan nyata. Penelitian ini diharapkan tidak hanya memperkaya literasi tentang moderasi beragama, tetapi juga menjadi pijakan bagi inisiatif-inisiatif kolaboratif antarumat beragama yang berlandaskan pada kepedulian bersama terhadap alam semesta.
ABSTRACT
One of the fundamental problems that hinders the realization of religious moderation in Indonesia is the dominance of exclusive religious perspectives. This condition causes interreligious interactions to often get stuck on a symbolic level and do not result in a deep understanding. To respond to this problem, this article proposes a constructive effort, namely a rereading of God's mandate in Genesis 1:28 (cultural mandate) and making it a practical foundation for religious harmony. Using a qualitative biblical theological approach and exegesis methods that highlight the words kabash and radah, this study yields three main findings: human dignity as imago Dei, mandate as stewards of nature, and the need for synergy. These three findings suggest that cultural mandates have cross-faith reach that transcends doctrinal boundaries. Therefore, a significant contribution of this paper is to shift the orientation of dialogue from efforts to standardize trust to the spirit of sharing responsibility in real action. This research is expected not only to enrich literacy about religious moderation, but also to become a foothold for collaborative initiatives between religious communities based on a shared concern for the universe.

